Sabtu, 29 Mei 2011
Ponselku memekik, ada sms dari Meilinda yang memberitahu bahwa dia beserta teman-temanya sudah sampai di pertigaan terakhir (baca: pertelon Mbang Arum). Akupun bangun dari tempat tidur, mencuci mukaku, memasukan beberapa barang bawaan yang belum sempat ku masukan kedalam tas dan pamitan kalau mau pergi ke Ungaran. Tidak lupa mampir ke toko untuk mengisi bensin.
Greng... greng... greng...
Sesampainya di pertelon Mbang Arum, Aku menemui ada beberapa orang bersama Meilinda. Diantaranya adalah Eka Hanif, Sigit, 2 orang wanita yang bagiku tak asing lagi, serta 3 orang wanita dan 2 orang pria yang belum kukenal. Total semua 11 orang dengan 4 orang pria dan 7 orang wanita. Sesuai keputusan bersama, aku mengendarai sepeda motor pada urutan pertama.
Greng... greng... greng... Let’s go to Ungaran Summit (14.15)
Dari Pertelon Mbang Arum, kami lurus ke arah Gunung Pati, melewati jembatan yang baru di perbaiki (karena 2 bulan kemaren baru saja ambrol). Kemudian belok kiri dan mengikuti arah jalan... melewati jalan yang berbatu, melewati jembatan lagi dan belok kiri. Setelah itu mengikuti jalan hingga sampai di jalan raya. Jika ke kanan menuju ke Unnes dan apabila kekanan menuju ke Sampangan. Kami ambil ke kanan (melewati jembatan lagi) dan belok kanan lagi. Kami terus mengendarai sepeda motor, melewati Kampus UNTAG, UNIKA Soegiopranoto dan sampai di PLN. Kemudian belok kanan (Melewati jembatan, Pasar Jatingaaleh) dan lurus terus hingga menemui Pintu Gerbang Universitas Diponegoro (ada Patung Kudanya Looo...!!!).
Hari mulai sore, lalu lalang kendaraan bermotor di Banyumanik mulai padat. Jalan-jalan di penuhi oleh bus-bus dan truk-truk besar. Udara panas dan Asap kendaraan bermotor menemani perjalanan kami. Sesekali aku melihat teman-teman dibelakangku dari kaca sepion sepeda motor. Jika tidak kelihatan, aku berjalan agak lambat sambil menunggu mereka. Melewati perbatasan antara Kota Semarang dan Kabupaten Semarang, Ku kira jalan akan sedikit lebih sepi ternyata sama saja.
Aku masih bersama sepeda motor Supra X berplat H5560QW di ikuti beberapa teman dibelakangku. Akupun teringat temanku yang senatiasa memboncengkan aku disaat muncak-muncak bersama. Ya Sudah lah... hm... hm... hm Apapun yang terjadi, kukan slalu ada untukmu, janganlah kau bersedih coz everythings gonna be okay...!!!. Lama-lama terasa lama, kok belum sampai di pertigaan Lemah Abang atau sudah terlewati ya...!!!. Ah tidak mungkin, seingatku di sekitar pertigaan ada Pom Bensin dan jalan disekitar itu sangat lebar. Setelah beberapa menit, akhirnya tiba di pertigaan tersebut dan aku berhenti sebentar disana. Setelah semuanya lengkap, kami belok kekanan dan lurus terus.
Jalanya naik, naik dan terus naik. Aku memperhatikan disekitar kanan dan kiriku sambil mencari pom bensin yang pernah aku lewati dahulu. Aku menilai bahwa pom bensin tersebut memiliki taman yang sangat indah... ha ha ha ha ha,,, jadinya aku memilih tempat itu. Ahirnya ketemu juga, kami berhenti dan kemudian melakukan sholat Ashar dahulu disana (bagi yang menjalankanya). Setelah sholat, aku bincang-bincang dengan Sigit sebentar, mengenai bebapa teman meilinda yang belum aku kenal tadi dan beberapa hal menyangkut perjalanan ke Ungaran summit. Kamipun meneruskan perjalanan, beberapa menit kemudian kami telah sampai di pasar Jimbaran.
Dari Pasar Jimbaran kami belok kekanan, lurus (jalanya sangat ngetrack dan sangat sempit). Masih lurus terus, lurus dan lurus... jalanya masih ngetrack... menanjak tinggi. Setelah itu kami belok kanan dan lurus lagi. Kemudian kami di pungut biaya sukarela dari warga setempat @Rp 1.000,00 dan melanjutkan perjalanan. Sampai di pintu gerbang wahana rekreasi Umbul Sidomukti kami juga di pungut biaya lagi @Rp1.000,00. Mulai dari pintu gerbang ini menuju BaseCamp pendakian, ada beberapa jalan yang sangat ngetrack dan Jalanya bagus sekali. Mungkin ketika tiba di area ini harus extra hati-hati. Pemandangan alam nan indah mulai terlihat di kanan dan kiriku dan juga ada banyak pasangan suami istri/muda mudi (mungkin) yang berada di sekitar jalan yang kulalui.
Sejenak berhenti menunggu teman-teman yang ada dibelakang. Ha ha ha ha ha ha,,,... aku ada di depan. Setelah bersusah-susah naik melewati jalan tersebut, akhirnya sampai di Base Camp Pendakian. Kami memarkirkan sepeda motor dan bersantai sejenak. Aku dan Meilinda melapor ke Petugas Base Camp. Mengisi daftar hadir (dari PGSD Unnes, total 11 orang, 4 cowok, 7 cewek dan 6 sepeda motor) dengan biaya @orang Rp 2000,00 n @motor Rp 3000,00.
Akupun memberi sedikit pengarahan kepada teman-teman sebelum pemberangkatan. Aku mulai dari perkenalan, mereka mulai memperkenalkan nama mereka satu persatu. Kemudian menjelaskan rute, dan beberapa cara dalam perjalanan. Kemudian mereka berganti pakaian tempur, agar dalam perjalanan lebih nyaman.
Inilah sedikit informasi tentang profil mereka:
Dari 11 orang dalam perjalana ini, 8 diantaranya kuliah di PGSD Unnes mereka adalah Meilinda, Eka H, Nani, Umi, Novi, Putri, Ayuk dan Yoel, serta 3 diantarany adalah aku, Sigit dan Aris sebagai bumbu pelengkap perjalanan ini ha ha ha ha ha ha ha...
Mau tahu lebih lengkap lagi....
Meraka semua berasal dari Pati, kecuali 3 orang... (lagi-lagi 3 orang) diantaranya Aku (kok lagi-lagi aku lagi), Ayuk (dari Solo) dan Yoel (dari Jepara).
Ini pasti lebih lengkap
“....................................................................................................................................................................”
Sebelum perjalanan pada sore hari ini kita mulai, marilah kita berdoa menurut agama dan keyakinaya masing-masing, berdoa di persilakan... Tepat pukul 17.00, kami mulai menapakan kaki menuju kearah tujuan kami. Perjalanan dimulai, aku menempatkan posisiku dibagian paling belakang dan mempersilakan mereka berjaln dibagian depanku. Kami masih berjalan, melewati hutan pinus-pinus ini. Sebelum meninggalkan hutan pinus, kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Ayoo Semangat, mungkin perjalanan malam ini tidak sampai 3 jam kok...!!!. “Ayo Novi, masih semangatkan,,, teman-teman yang lain beri semangat dong”.
Perjalananan dilanjutkan, aku masih memposisikan diriku di bagian belakang. Sekarang melewat jalan beton atau sebagainya (pokoknya tempat pijakanku ini terbuat dari semen). Aku dan Eka pun membicarakn kabar teman-teman sekelas kami. Urut satu persatu, dari absen pertama hingga absen terakhir. Selain itu juga hal-hal yang pernah ada di kelas kami (baca:Painem Sexy). Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. “Om, om, ki mesti ono buntut’e”, terdengar suara dari depan. Ooo, yo mesti... aku buntut e (karena posisiku di belakang) neg kowe sirahe (karena posisi mereka didepanku).
Petang mulai datang menutupi permukaan bumi ini, angin semilir menambah kesunyian malam itu. Akupun mengingatkan mereka untuk mempersiapkan senter mereka. Akhirnya kami tiba di aliran sungai ini, bergegas melewatinya dan terus naik. Akhirnya kami tiba di daerah sedikit lapang untuk beristirahat sebentar (mungkin jarak dengan sungai itu tidak terlalu jauh). Akupun meminta mereka untuk mematikan senter mereka untuk menikmati pemandangan disekitar. Tiba-tiba ada yang menyalakan senter dan menyenteri kakinya. Terlihat seekor lintah yang sedang bernostalgia dengan kakinya. Kamipun memperhatikanya dan “wuaaaaaaaaaaaaaaaa...............” ada lintahnya gak??? Serentak mereka semua berdiri memeriksa kaki dan tangan mereka.
“Lintah, seekor molusca (hewan bertubuh lunak) yang apabila telah menempel akan menghisap darah kita. Dia juga memproduksi sebuah enzim yang dapat mencegah pembekuan darah, jadi apabila telah dihisap oleh lintah maka darah akan terus mengalir hingga enzim tersebut tidak bereaksi lagi. Salah satu hal yang tidak disukai lintah adalah tembakau, jadi bawalah rokok jika melakukan perjalanan di hutan ”.
Berhenti terlalu lama membuat tubuh terasa dingin, kamipun melanjutkan perjalanan ini. Disela-sela perjalanan itu, akupun sedikit memberitahu mereka tentang hal ini, Dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak, dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar, dilarang memburu sesuatu kecuali waktu. Ooo tidak... salah satu diantara kami ada yang tidak sengaja memetik bunga Mawar ketika di BaseCamp tadi. Lalu bagaimana ini...??? Apakah yang akan terjadi apabila memetik bunga itu...??? apa kita harus kembali untuk mengembalikan bunga ini...???. Aku cuma bilang agar tidak membawanya sampai kerumah. Sesampainya di suatu gardu (sejenis tempat berteduh) yang bertuliskan Pos 2, atau pos 3 ya???(ak agak lupa). Dia meninggalkan bunga Mawar di sekitar itu.
Perjalanan kami lanjutkan, setelah beberapa lama berjalan di hutan ini dengan selimut malam. Akhirnya kami tiba disuatu tempat, orang-orang disekitar situ menyebutnya “Rumah Pekerja”. Kami beristirahat disana sejenak, berbincang bincang dan sedikit bercerita tentang tugas-tugas mereka (baca: PGSD Unnes). Setelah mengambil air (karena disini merupakan sumber air terakhir sebelum memasuki daerah puncak), kami meneruskan perjalanan kami, gelap senyap sepi tidak ada orang yang lewat. Sekarang kami telah masuk di perkebunan kopi. Ada 2 jalur persimpangan, ambil ke arah kiri. Terus melewati ruas-ruas jalur yang mungkin lebih luas dari jalan sebelumnya.
Kami juga menemui tempat-tempat yang dapat dijadikan tempat peristirahatan, he he he he he (berharap ngecamp di alam terbuka). Setibanya di persimpangan (jika lurus ke Peromasan dan jika Belok kiri menuju Puncak) kami berdiskusi, mau tidur dimana??? Akhirnya kami memutuskan untuk tidur di Peromasan dengan mempertimbangkan beberapa hal. Kamipun istirahat sejenak, satu-persatu dari kami mengeluarkan roti, seres, blueband... ayoo kita makan malam. (tanpa mengeluarkan logistikpun aku bisa kenyang). Mas, mas ini rotinya... (lho, kok mas...??? perasaan kamu lebih tua kok) Iya dek, makasih ya...!!!
Setelah makan malam (walau hanya roti+seres+bluebandX2) tapi sudah cukup mengisi kekosongan perut ini. Dingin-dingin, enaknya tiduran, kalo tiduran nanti keblabasan, kalo keblabasan..... Perjalanan kali ini menuju ke Peromasan (estimasi waktu mungkin tidak sampai 30 menit, kalo gak nyasar). Lurus,,, terlihat tempat yang bisa digunakan untuk tidur (masih berharap bisa tidur di alam terbuka). Tiba di persimpangan, kami sedikit kebingungan memilih arah, mempertimbangkan lagi. Akhirnya keputusanya lewat ke arah kanan (karena terlihat senter kearah atas). Jalan-jalan meneruskan jalan ini. Tiba di persimpangan lagi, kanan atau kiri??? (pilih yang mana...??) Kekiri---jalan terlihat jelas namun jalan agak terjal, kekanan--- jalan rimbun dan kurang terlihat. Ayo...,, Ormed Orped (padahal gak ada petane). Aku dan Aris ke kiri, Sigit n yoel ke kanan. Jalan ke kananpun akhirnya kita pilih kembali.
Berjalan-berjaln dan berjalan, terlihat gapura daerah pelatihan yuno 400/raider. Didekat gapura, kami mulai berdiskusi kembali. Jikalau mau tidur dirumah warga, maka harus mengetuk pintu rumah warga tersebut. Silakan teman-teman yang mengaturnya, kulo manut wae. Akhirnya mereka (cewek group) berusaha mencari rumah warga yang masih rame (belum tidur). Setelah dapat, kamipun di ajak kedalam rumah warga tersebut. Tepat pukul 21.00 kami berada didalam rumah tersebut. Didalampun kami berkenalan dengan tuan rumah, kamipun di persilakna untuk tidur. Menggelar tikar yang telah disediakan.
Ibu Wati (nama samaran) juga memberi kami air hangat untuk minum. Ayo, yang punya kopi dikeluarkan dunk,,,... mumpung bisa buat ni. Ayo mas makan, (kami bawa bekal dari kos lo, masakan sendiri). “Oke santai saja, kalian makan dulu nanti kalo sisa aku yang makan”. Meraka makan, aku masih menikmati hangatnya kopi ini. Sebagian dari kami ada yang ke Kamar mandi (padahal jaraknya agak jauh, mungkin 50 meter dari rumah), ada yang tiduran, ada yang bercengkrama, ada yang makan dan ada pula yang menikmati hangatnyakopi ini (padahal kui aku dewe).
Tepat pukul 22.00 aku mengajak mereka untuk menunaikan ibadah sholat. Kami menuju ke kamar mandi yang berdekatan dengan Candi Peromasan. Seusai wudlu, aku masih menunggu teman-temanku yang lain untuk wudlu dan BAK. Disela-sela itu, aku bertemu dengan beberapa orang yang berada disekitar itu. Dari mana mbk??? (kebetulan cewek), Saya dari Politeknik Negri Semarang (dengan wajah tak bertenaga). Ooo... dari WAPALHI. Katanya, dia angkatan 2010 jurusan (kalo gak salah) menejemen, bersama temanya berjumlah 11 orang (kalo gak salah). Sudah disini sejak kemaren kemungkinan pulang hari minggu dan baru saja turun dari Puncak Ungaran. SEMANGAT MBAK, SEMOGA LEKAS DILANTIK.
Kembali ke rumah bu Wati, kamipun melakukan sholat jama’ qoshor takhir. Setelah sholat, aku mengahsbiskan nasi yang masih tersisa sambil bercanda-canda. Eits, masak jam segini (sekitar pukul 22.00) udah mau pada tidur, ayo bercerita ria dahulu. Cerita apa ya??? Akupun sedikit menceritakan tentang pengalaman pertamaku melakukan pendakian di Ungaran (setengah e). Mereka (Putri, Eka, dan Novi) entah cerita apa??? Aku juga lupa wkwkwkwkwkwkwkwkwk. Umi, Aris, Nani, Meilin dan Sigit udah pada ndekem turu, Sedangkan Yoel dan Ayuk (kagak ada kabarnya). Setelah saling bercerita, kini tiba saatny bobok (kebetulan dieselnya dimatikan) ya kebeneran bsa tidur.
Malam malam ini, begitu terasa sepi tanpa kehadiranmu. Ketidakadaan signal memprngaruhi kondisi malam itu. Akupun hanya berselimut SB ini (la memange biasane selimutan karo opo??). Mendengar suara gemetar kaki , rintihan kedinginan, bahkan suara dengkuran (baca:ngorok). Semua itu menambah indahnya malam ini. Akhirnya akupun tertidur bersama SB ini di pojok rumah ini. (00.30)
Pukul 02.40 WIB
Di Rumah saya
.jpg)
0 komentar:
Poskan Komentar
Silakan tinggalkan komentar anda...!!!